Beranda Kota Payakumbuh Wako Payakumbuh : Ini Bukan Soal Proyek, Tapi ini Kepentingan Kuliner Malam

Wako Payakumbuh : Ini Bukan Soal Proyek, Tapi ini Kepentingan Kuliner Malam

157
0
BERBAGI
Pusat Kuliner Malam Kota Payakumbuh. Foto TabloidBijak.com
Pusat Kuliner Malam Kota Payakumbuh. Foto TabloidBijak.com

Newsumbar.com – Payakumbuh sudah begitu dikenal dengan kuliner malamnya. Banyak pengujung melintas dari Riau ke Sumbar atau sebaliknya yang singgah ke Payakumbuh untuk menikmati kuliner malam. Namun demikian, Persoalannya sampai saat ini, belum ada toilet yang representatif untuk melayani dan memajukan kuliner Payakumbuh.

Untuk kepentingan memajukan pariwisata kuliner malam ditambah dorongan dari pedagang maupun masyarakat, maka Pemko Payakumbuh membangun toilet yang representatif di dekat pusat kuliner Payakumbuh.

“Kuliner malam sudah membangun ekonomi masyarakat dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Payakumbuh. Bahkan banyak restoran itu sudah 24 jam di Payakumbuh termasuk pedagang kaki lima yang selama ini menikmati rezeki dari kuliner malam,” ujar Walikota Payakumbuh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku, Sabtu (9/12).

Riza mengatakan kuliner malam membutuhkan toilet yang representatif. Toilet yang mirip dengan toilet di Bandara Soekarno Hatta Terminal 3 yang tetap dijaga secara bergantian. Ada petugas yang selalu menjaga dan merawat kebersihannya.

“Tidak benar itu istilah toilet internasional. Yang benar toilet yang representatif. Apanya yang internasional? Di Eropa orang cebok pakai tisu. Lebih bagus kita orang Islam pakai air. Saya tidak sreg dengan istilah internasional. Lebih bersih kita orang muslim daripada bule itu,” katanya.

Riza menambahkan pada toilet nantinya juga akan dibuatkan taman yang sejalan dengan rencana pelebaran Jalan Sudirman. Riza ingin lokasi tersebut ditata menjadi pusat kota yang lebih asri dan rapi.

“Kita lihat saja, di depan kantor pos dan bupati lama saja sudah sedikit berubah, sudah rapi walaupun itu belum cukup. Kita ingin rapikan dan lebarkan jalannya semua. Ini bagian dari design itu semua,” tuturnya.

Riza menyampaikan selama ini Kementerian Pariwisata sudah mempertanyakan kondisi toilet di Sumbar yang pada umumnya bermasalah dan jorok. Bahkan Kementrian Pariwisata pesimis dengan Gerakan Payakumbuh Menuju Destinasi Wisata yang akan digaungkan, jika toilet yang representatif Payakumbuh belum punya, tuturnya.

“Mungkin yang dibayangkan oleh mereka yang menolak adalah seperti WC kebanyakan itu. Padahal yang kita bangun adalah toilet yang begitu nyaman dan harum. Kita tempatkan petugas kebersihan empat orang di sana secara bergantian,” ujar Riza lagi.

Untuk masalah lokasi Riza mengatakan tanah untuk membangun itu tidak ada lagi melainkan di tempat tersebut. Seluruh tanah yang ada di pasar sudah ditempati pedagang dari dulu dan ia tidak ingin menyuruh mereka pindah. “Mereka juga cari makan dan kasihan kalau kita usir. Walaupun hanya berupa kios maupun los,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Koperindag Payakumbuh Dahler mengatakan keberadaan toilet tersebut ditujukan untuk melayani kuliner malam Payakumbuh, namun pemanfaatannya sebenarnya lebih banyak untuk kepentingan sekolah. “Jam sekolah dipakai untuk siswa dan guru, bahkan sebagai penunjang UKS,” katanya.

Dahler menyampaikan bahwa toilet yang dibangun adalah toilet yang modern, berspesifikasi tersendiri dan pelayanan yang memadai. “Kebersihannya terus dijaga oleh petugas cleaning service dari pagi sampai malam. Seperti di bandara. Setiap satu dua yang masuk langsung dibersihkan dan dikasih pengharum,” ujarnya.

Di sis lain Dahler menyayangkan penolakan pembangunan toilet tersebut padahal mereka sudah dijelaskan dan diberikan pengertian oleh Wawako Senin lalu (04/12). “Kenapa masih ditolak? Kalau segala sesuatu dibawa ke politis tentu tidak bagus,” pungkasnya.

Walikota Payakumbuh Riza Falepi juga tidak menyangkal bahwa ada muatan politis di balik penolakan-penolakan pembangunan di Payakumbuh. “Khusus untuk penolakan toilet, saya sadari ada yang murni menolak karena lokasinya dinilai kurang pas dan bagus. Namun bagi yang menolak karena politik, niatnya sudah tidak baik dari awal,” ujar mantan Senator Sumbar ini.

Riza mensinyalir ada politisi dan barisan sakit hati yang belum move on dari Pilkada Payakumbuh 2017 lalu. Mereka adalah politisi selama ini sudah sering mengganggunya. Bergerak di belakang layar mengganggu pembangunan dan mengangkat isu serta bertindak seolah jadi pahlawan kesiangan.

“Tak hanya masalah pembangunan toilet ini, tapi juga pembangunan di tempat lain. Seperti pembebasan tanah di Tanjung Pauh hampir gagal karena dikomporin oleh mereka. Alhamdulillah masyarakat di sana mengerti dan jiwa kebersamaan dengan kami sangat baik,” tuturnya.

Kepada mereka yang berpikiran Walikota main proyek, Riza membantah hal itu. Menurutnya, ini bukan soal proyek atau apapun seperti tuduhan orang, namun ini untuk kepentingan pedagang kuliner malam, yang tamu mereka sering mengeluhkan soal tidak adanya toilet di kawasan kuliner malam.

“Mau proyek itu diberhentikan sekarang juga tidak apa-apa. Tak ada kepentingan saya di situ. Tak ada saya main proyek. Sorry-sorry aja,” tukasnya.

“Ini bukan kebutuhan saya, melainkan kebutuhan banyak pihak. Mau berhenti pembangunnannya juga tak apa-apa buat saya. Tapi kasihan itu pedagang. Kasihan masyarakat,” pungkasnya.

Riza mengatakan ia hanya ingin memastikan pariwisata kuliner Payakumbuh membuat pengunjung semakin betah. Mereka pun membelanjakan uangnya di Payakumbuh sehingga Payakumbuh lebih makmur. (Ay/Tim)

Leave a Reply