Beranda Budaya Sektor Pendidikan Modern Hadirkan Pusat Ekonomi Baru dan Geliat Hebat Pariwisata

Sektor Pendidikan Modern Hadirkan Pusat Ekonomi Baru dan Geliat Hebat Pariwisata

43
0
BERBAGI

Payakumbuh, Newsumbar.com – Sektor pendidikan mampu memberikan pengaruh baik kepada sirkulasi ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) masa depan. Hal itu dikatakan peneliti senior The Indonesian Institute, Beni Inayatullah kepada newsumbar.com. Kamis (9/8).

Menurutnya, dengan banyaknya sekolah dan universitas maka pelajar juga akan bertambah dan ekonomi akan meningkat. Pusat-puasat ekonomi baru akan muncul, seperti rumah kos, warung makan, toko buku dan alat tulis kantor serta fotocopy. “Tidak tertutup kemungkinan sektor pariwisata akan menggeliat hebat di Ranah Minang karna banyak kunjungan keluarga siswa yang akan berkunjung pada waktu tertentu. Contohnya, jadwal wisuda serta penerimaan mahasiswa ada dua kali dalam satu tahun. Hal ini jelas ada pendatang baru ke sumbar akan tetap ada, terutama keluarga mahasiswa tersebut. Tempat wisata akan disinggahi, ” imbuhnya.

Lebih jauh dijelaskan Beni, melihat sejarah potensi terbesar Sumbar itu juga ada pada dunia pendidikan. Dulu Sumbar dikenal karena tokoh-tokoh besar seperti M. Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Buya Hamka dan banyak lainnya. Unggulnya tokoh-tokoh masa lalu itu karena mereka selain mengalami pendidikan di surau juga beruntung mendapatkan pendidikan modern. Misalnya, Tan Malaka sekolah di Sekolah Raja (kweekschool) di Bukittinggi dan sekolah ke Rijkskweekschool di Belanda. Sutan Syahrir sekolah Europeesche Lagere School (ELS) lalu masuk Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Agus Salim juga bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Kemudian Mohammad Hatta juga sekolah di Europese Lagere School (ELS), lanjut ke MULO dan Prins Hendrik Handels di Jakarta lalu melanjutkan sekolah di negeri Belanda.

Kondisi itu lanjutnya yang membuat mereka secara intelektual lebih maju ketimbang tokoh dari daerah lain. “Karenanya kalau ingin ‘mambangkik batang tarandam’ maka Sumbar harus mulai membangun infrastruktur pendidikan yang bagus dan modern supaya semua anak muda yang punya potensi namun kurang mampu dari segi ekonomi dapat bersekolah di Sumatera Barat, dan tidak perlu lagi ke Jawa,” kata putera asli Nagari Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota itu dalam obrolannya.

Ia menyarankan, sebaiknya Sumatera Barat mulai melirik dunia pendidikan sebagai solusi jangka panjang mengingat potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan industri sangat kecil, sehingga Sumatera Barat memiliki kekhususan sebagai daerah pendidikan.

“Seperti Yogyakarta, tidak punya SDA berlimpah dan juga tak memiliki industri besar namun kota itu mampu memberikan perekonomian yang bagus bagi warganya dengan menjadi kota pendidikan berbiaya murah, sehingga mahasiswa datang dari seluruh Indonesia. Sumbar bisa meniru Yogyakarta, dengan begitu tradisi intelektual akan kembali hidup dan perekonomianpun akan kembali berdenyut. Ini memang kerja jangka panjang dan bukan kerja semalam namun untuk itulah kita ada,” Sarannya.

Ditambahkan Beni , dari Rp.6,6 triliun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumbar hanya Rp.2,2 Triliun yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kondisi inilah menyebabkan keterlambatan pembangunan bila dibandingkan dengan provinsi lain dengan PAD lebih besar seperti Riau dan Jambi.

“Dari tahun ke tahun Pemprov Sumbar terus mencari masa depan pertumbuhan ekonomi mulai dengan menarik investor hingga menggenjot industri pariwisata namun belum memperlihatkan kemajuan berarti,” pungkas Caleg DPR RI dapil Sumbar 2 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu. (Ay/Tim)

loading...

Leave a Reply