Beranda Advertorial Riza Falepi : Masyarakat Butuh Aksi Nyata, Bukan Dipoles dengan Pencitraan dan...

Riza Falepi : Masyarakat Butuh Aksi Nyata, Bukan Dipoles dengan Pencitraan dan Selfie

97
0
BERBAGI
Walikota Payakumbuh, H. Riza Falepi. ST. MT
Walikota Payakumbuh, H. Riza Falepi. ST. MT

Newsumbar.com – Pada hari hari liburan seperti beberapa hari ini, terkadang kita ada kesempatan dan waktu untuk berselancar di internet. Semua berita baik skala lokal, nasional maupun dunia semuanya kita monitor. Namun, dari sekian judul yang kita temui ada sesuatu yg menarik. Menarik karena beritanya sedang hangat serta menjadi viral, yakni terkait tentang Palestina.

Mengapa?, ada pergeseran nilai dalam melihat kasus Palestina tersebut. Sebelumnya terkait pembelaan soal Palestina, yang paling keras hanya datang dari negara negara kawasan Arab atau negara yang tradisional secara Islam cukup dikenal.

Namun, sejak beberapa waktu belakangan ini muncul sebuah negara yang datang dari kawasan Uni Eropa bernama Turkey yang pembelaannya bisa dibilang sangat fantastis terhadap Palestina.

Sebelumnya, Turkey terkenal dengan sebuah negara sekuler. Bahkan sebagian besar rakyatnya mengadopsi pemahaman sekuler ketika itu. Namun sejak beberapa waktu belakangan ini, di kalangan pemimpinnya sudah mulai tumbuh kesadaran tentang Islam yang baik. Dampak dari semua itu, Turkey berlahan tapi pasti tumbuh menjadi sebuah negara besardan bernuansa Islamis dan pembela Islam nomor wahid, melebihi negara negara di kawasan Arab sekalipun.

Hingga saya berpikir jangan jangan negara negara Islam yang selama ini membela Palestina sudah berubah. Pembela tradisional seperti Saudi Arabia, Mesir dan beberapa negara arab sudah ‘merelakan’ Yerusalem dianeksasi Israel lantaran posisi politiknya tidak kuat alias sangat takut dengan Amerika yg merupakan pelindung utama Zionis Israel.

Berbeda dengan Turkey yang cukup kuat dan vokal di forum furum dunia untuk memperjuangkan kepentingan Palestina. Berangkat dari pemahaman itulah akhirnya saya mulai memahami jika perubahan besar yang terjadi ini tidak terlepas dari soal leadership dari kepemimpinan masing masing negaranya.

Erdogan sebagai pemimpin Turkey mampu mengkonsolidasikan potensi negaranya dengan melewati gangguan yang begitu banyak dari hegemoni dominasi kolonialisme barat terhadap Turkey dan negara negara berpenduduk mayoritas Islam pada umumnya.

Pemimpin Turkey itu berhasil melewati gangguan serta demo besar besaran, Gezi Park, dan tuduhan berbagai macam dari barat seperti anti pluralis, intoleran, bahkan tuduhan keji sekalipun seperti korupsi dan otoriter walaupun ia dipilih secara demokratis.

Semua gangguan tersebut bahkan terus berlangsung dengan brutal seperti kudeta, dan terakhir USA mempersenjatai pemberontak kurdi melawan Turkey. Bahkan ISIS juga ikut memberikan gangguan dengan beberapa kali membom Istambul dalam aksi terorisme bersama pemberontak kurdi PKK dan sekutu sekutunya.

Sehingga hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa di balik skenario tersebut ada campur tangan Amerika yang bertujuan agar semua negara Islam termasuk Turkey di sekitar kawasan Teluk patuh dan tunduk kepada Paman Sam tersebut.

Namun bagi Turkey, semua dilewati dengan kondisi ekonomi tetap tumbuh. Padahal gangguan yang datang dari berbagai lapisan tersebut, cukup mengganggu perekonomian  di negara itu.Akan tetapi, sampai hari ini  ini gangguan tersebut tetap ada, namun Erdogan dengan segala kelelahannya sebagai pemimpin tetap tegar dan tak pernah dia nampakkan kepada rakyatnya.

Yang dia perlihatkan selalu rasa optimis sambil meyakinkan rakyatnya bahwa masa depan itu adalah milik umat islam. Begitulah dia berjuang sehingga dari beberapa contoh data data, terlihat jelas keberhasilan dia memimpin negaranya.

Seperti salah satu contoh, pada tahun 2002 saat awal berkuasa, kemiskinan penduduk Turkey menurut data statistik sekitar 30 persen dan berpenghasilan di bawah 4,5 USD per hari dan  hari ini, data  statistik menunjukan penduduk miskin yang ada di turkey sekarang hanya tinggal lebih kurang 1 persen.

Artinya Erdogan selama 15 th hampir selesai tugasnya dalam memberantas kemiskinan. Tidak perlu waktu yang terlalu lama.

Bandingkan dengan Indonesia. Menurut data, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan lebih dari 11 persen dantrendnya malah cendrung naik saat ini. Itupun batasan garis kemiskinannya bukan mereka yg berpenghasilan 4,5 USD per hari malah jauh di bawah itu. Jangan jangan jika kita mengambil garis kemiskinan itu di angka 4,5 USD, bisa jadi lebih dari 30 persen orang di Indonesia masuk dalam kategori miskin.

Pertanyaan kita  yang tentunya juga pertanyaan semua pemimpin adalah apakah kita sudah bisa mensejahterakan rakyat yang kita pimpin?. Jelas sangat sulit.

Bahkan diametral apa yang dilakukan pemimpin lokal seperti Bupati serta Walikota saat ini. Dan di tingkat nasional pun jika ditanya susah untuk memberikan jawabnya ketika pertanyaan itu menyangkut kesejahteraan rakyat, apalagi menuntaskan kemiskinan.

Sebaliknya, Erdogan bisa melakukannya dengan kesungguhan. Dalam mendongkrak pertumbuhan perekonomian negaranya, dia malah memakai instrumen yang telah ada dalam Islam yakni seperti waqaf, shodaqoh, zakat.

Hal tersebut dia kembangkan dengan cara kreatif menjadi model integrasi dan diadopsi menjadi sistem ekonomi Turkey. Artinya terobosannya adalah mulai memperkenalkan Islam lebih jauh sebagai cara utk memberantas kemiskinan. Cara ini ternyata ampuh meningkatkan pertumbuhan ekonomi dibandingkan mengikuti pola bank dunia maupun IMF atau ekonomi kapitalis liberalis pada umumnya.

Bagi kita Kepala Daerah yang gangguannya tidak seberat Erdogan justru harusya lebih bisa menghadirkan kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyat.

Dengan cara apa dan kreativitas seperti apa bahkan inovasi apa agar kesejahteraan itu mampir pada rakyat khususnya di Payakumbuh. Tentu saja sebagai pemimpin kami harus mati matian dan serius untuk memikirkannya. Bahkan kalau perlu berpikir out of the box dalam menghadirkan kesejahteraan tersebut.

Dan tentu, dengan leadership dan kapasitas yang harus dimiliki, sehingga bisa membuatnya untuk menjadi sebuah kenyataan atau make it happen. Inipun tentu tidak mudah bagi kepala daerah yang telah bersungguh sungguh.

Bayangkan kalau kesunguhan itu kurang atau hanya sekedar lipstik pencitraan tentu akan kasihan pada rakyat yang kita pimpin. Begitu berat amanat ini dan jangan terlalu berharap hanya pada anggaran dari pusat semata untuk memakmurkan masyarakat.

Sebuah pertanyaan yg paling mendasar bagi kami kepala daerah apakah bisa menghadirkan kemakmuran di dalam situasi sesulit apapun. Bahkan kalau pemerintah pusat tidak mampu apakah kita yang di daerah bisa bahkan jauh melebihi rata rata nasional, sehingga sesekali pemerintah pusatpun perlu untuk belajar pada daerah?.

Sebenarnya pemimpin seperti inilah yang dicari dan di idamkan oleh rakyat. Walaupun sebagian besar kepala daerah belum mampu untuk itu. Maka malulah kita kalau menjawab tantangan dari masyarakat hanya dipoles dengan pencitraan dan selfie semata. Dan rakyat tidak butuh itu, tapi mereka butuh aksi nyata kita. **

Penulis : Riza Falepi (Walikota Payakumbuh)

Leave a Reply