Beranda Advertorial Pria Asal Padang, Ricky Elson, Mobil Listriknya Diburu Jepang dan Malaysia

Pria Asal Padang, Ricky Elson, Mobil Listriknya Diburu Jepang dan Malaysia

82
0
BERBAGI

Newsumbar.com – Tak salah jika Ricky Elson disebut sebagai salah satu putra terbaik Indonesia dengan reputasi dunia. Di Jepang, prestasi Ricky sebagai pengembang mobil listrik, sangat dihargai. Ia menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Teknologi Permanen Magnet Motor dan Generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Jepang. Kini, Malaysia pun siap memberi tawaran menggiurkan. Apa kabar, Indonesia?

Selama di Jepang, pria kelahiran Padang 11 Januari 1980 itu menemukan 14 teori tentang motor listrik yang sudah dipatenkan oleh pemerintah setempat. Jelas sangat miris. Karya anak bangsa namun bukan Indonesia yang mematenkan karyanya, melainkan justru bangsa lain.

Lho, kok seperti menafikan Indonesia? Tidak juga. Ricky sudah cukup lama menunggu izin mobil listrik yang ia buat dengan dukungan Menteri BUMN, Dahlan Iskan. Ia berharap mobil listrik bernama Selo dan Gendhis itu dapat menjadi inspirasi kelahiran mobil listrik buatan anak negeri. Namun apa daya, izin tak kunjung keluar. Bahkan terkesan digantung oleh Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Saking kagumnya, Dahlan bahkan sampai menyebut pemuda Minangkabau ini sebagai “Putra Petir”, sebutan yang biasa disematkan kepada Gundala, salah satu tokoh superhero.

Ia dipercaya Dahlan sebagai pelaksana penugasan proyek pengembangan teknologi mobil listrik nasional. Ricky pun aktif melakukan penelitian di Ciheras, Tasikmalaya, terkait pembangkit listrik tenaga angin. Bahkan kini kincir angin hasil rancangannya menjadi yang terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak.

Yang lebih luar biasa lagi, ia rela meninggalkan Jepang dengan segala fasilitas dan penghasilan yang didapatkan disana. Ia memilih hidup sederhana di pelosok Ciheras dengan kehidupan ala kadarnya, sambil membimbing banyak mahasiswa dan pemuda yang ingin belajar. Ricky juga rela berjauhan sementara dengan istri tercinta demi cita-cita mewujudkan pembangkit listrik murah dan ramah lingkungan untuk Indonesia.

Dahlan sendiri bingung, beberapa bus listrik yang juga masih nangkring di Kemenristek masih kesulitan keluar izinnya. Padahal secara tak langsung, bus-bus listrik itu sudah melewati jarak jauh, dari Jakarta-Bandung-Yogjakarta-Jakarta. Pemerintah berkilah, mobil-mobil itu tak lolos uji emisi. Agak aneh, sebab negara maju seperti Jepang saja menerima.

Melalui akun facebook-nya, Ricky mengaku jika perusahaan di Jepang tempatnya bekerja dulu, terus membujuknya untuk kembali. Apalagi menurutnya, saat ini Indonesia belum bersahabat untuk hasil-hasil karyanya.
Akhirnya Ricky kembali ke Jepang setelah dikecewakan oleh bangsanya sendiri. Meskipun demikian, tekadnya tetap sama: ingin memberi kontribusi untuk negeri sendiri. Bisa jadi, hal ini kelak akan terjadi ketika pemerintah memiliki kebijakan yang lebih baik bagi para ilmuwan seperti Ricky.

Digaet Malaysia
Jika yang menikmati karya Ricky dan tim beberapa waktu lalu hanya Jepang, kini datang negara yang agak sensitif bagi kita: Malaysia. Ya, Malaysia telah menyatakan minat untuk membeli prototype Selo dan bakal dikembangkan di sana‎. Bahkan Negeri Jiran itu siap untuk memboyong Ricky beserta tim demi pengembangan mobil listrik itu.
“Saya berencana menerima pinangan Malaysia demi mewujudkan karya saya dan tim. Ini pilihan realistis. Namun sebagai orang Indonesia, saya akan berusaha melakukan negosiasi dengan Malaysia agar Selo tetap menjadi Made in Indonesia. Proses pembuatan tetap harus di Indonesia. Semoga ada pilihan lain,” kata Ricky.
Dia mengakui, apa yang akan diputuskannya tersebut bukan kabar baik bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun, dia mengatakan jalan yang akan ia tempuh tersebut kelak akan menjadi kebanggan untuk Indonesia, meski tidak singkat.

Ketertarikan Malaysia meminang Selo berawal dari pertemuan Ricky dengan salah seorang kawan di Kuala Lumpur, delapan bulan lalu. Akhirnya, Ricky mendapat kabar kalau ada keinginan keras Malaysia untuk mengembangkan mobil listrik bersama Rricky dan tim.
Kisah Ricky mengingatkan kita dengan sosok Presiden Indonesia ketiga, BJ Habibie. Ia pindah ke Jerman, tempat dimana karya ilmuwan lebih dihargai. Jika Habibie tak terlupakan (karena ia akhirnya menjadi orang nomor satu Indonesia), semoga Ricky pun mendapat pengakuan, atau setidaknya dukungan sepantasnya. (BA/SN)

Leave a Reply