Beranda Advertorial Diangka 177 Tahun Limapuluh Kota, Pengentasan Kemiskinan Masih “Jauh Panggang Dari Api”

Diangka 177 Tahun Limapuluh Kota, Pengentasan Kemiskinan Masih “Jauh Panggang Dari Api”

281
0
BERBAGI

Payakumbuh, Newsumbar.com – Terbujur lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, begitulah kondisi Sayfril (51), saat Tim Newsumbar.com menyambangi kediaman rumah semi permanen yang ditinggali keluarga tersebut. Memang, miris dan sangat menyayat hati, Bapak dari empat orang anak keluarga miskin ini sudah lama mengalami kelumpuhan karena tidak ada biaya untuk berobat.

Syafril yang merupakan warga Jorong Balai Rupih, Nagari Simalanggang Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota, sangat ingin sekali sehat dan sembuh serta berobat namun apalah daya, karna keterbatasan biaya, ia harus berbujur lemah dirumah menunggu uluran tangan dermawan serta bantuan pemerintah setempat.

Disaat kabupaten limapuluh kota memasuki angka yang ke 177 tahun, namun potret buruk masalah pementasan kemiskinan masih “Jauh Panggang Dari Api“, inilah yang di alami salah satu masyarakat dari keluarga miskin yang bernama Syafril, sudah 6 bulan mengalami sakit, namun karena faktor kemiskinan, bapak empat anak ini hanya bisa terbaring lemah diatas tempat tidur karena tidak ada biaya untuk berobat, bahkan kartu BPJS pun tidak ada.

Saat kontributor Newsumbar.com, datang menyambangi Syafril kerumah nya, ia hanya bisa terbaring lemah dirumah semi permanen bantuan dari program PNPM Mandiri Tahun 2009 silam, bahkan kini sang istri Syamsinar, (50), yang menjadi tulang punggung keluarga bekerja sebagai buruh buruh tani disawah warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Jangankan untuk berobat suami, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja tidak mencukupi, sang istri sangat berharap ada perhatian dan uluran tangan dari pemerintah setempat terhadap suaminya, dan ada dermawan yang mau membantu pengobatan sang suami.

“Jangankan buat berobat, buat makan sehari hari saja susah, kami mohon bantuan kepada pemerintah dan dermawan untuk membantu pengobatan suami saya”, ucap Syamsinar sambil meneteskan air mata.

Yose Ade Yanto, Salah satu tokoh masyarakat Balai Rupih, juga membenarkan kondisi yang dialami keluarga Syafril, Yose dan warga berharap adanya perhatian dari pemerintah, karena penyakit yang diderita sudah terbilang lama, namun sampai saat ini belum ada perhatian dari pemerintah, baik dari nagari dan OPD terkait, kami juga berharap bantuan dari para dermawan untuk membantu biaya pengobatan Syafril.

“Kami dari masyarakat berharap adanya perhatian dari pemerintah dan berharap uluruan tangan kepada kita semua”. Tutup Yose.

Dengan kondisi seperti ini, kita berharap bisa menjadi perhatian dan skala prioritas bagi pemangku kepentingan di daerah tersebut untuk lebih memperhatikan kondisi masyarakatnya, sehingga kedepan, tidak ada lagi Syafril-Syafril yang lain menderita lumpuh akibat tidak ada biaya berobat. (ARYA/TIM)

loading...

Leave a Reply